Akhirnya bisa nulis tentang tokoh kita lagi. Sekarang saya pengen banget ngebahas tokoh sejarah yg dilupakan, tentu aja karna buku2 sejarah di sekolah saat ini kebanyakan tokoh dari wilayah Jawa. Yah, padahal Indonesia itu engga sekecil Jawa. We Tenri Olle, itulah namanya, seorang sultanah dari Tanette, Sulawesi Selatan. Saya yakin banget ini pasti sedikit orang yang tau. Coba aja liat di buku2 sejarah, palingan sekali duakali doang disebut, itupun udah sukur banget disebut. Bahkan dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta, Balai Pustaka, 1978) terbitan resmi dari Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) juga kaga nyebut2 namanya. Tanggal kelahirannya juga tidak ada literatur yg pada tau.
Lalu, apa hebatnya We Tenri Olle ampe sebegitu ngebetnya saya pengen cerita??
Wah.. kalo ngomongin hebat, maka komentar saya adalah sangat hebat! bahkan lebih hebat dari 'ibu' kalian Kartini.
![]() |
| Sultanah Siti Aisyah We Tenri Olle (1855-1910) |
We Tenri Olle adalah putri ke 2 La Tunampareq alias To Apatorang Arung Ujung dan juga Colliq Poedjie Arung Pancana. We Tenri Olle memiliki dua saudara kandung, yg laki bernama La Makkawaru dan yg perempuan bernama I Gading. Masa remajanya Tenri Olle dihabiskan di istana yg saat
itu diperintah ama kakeknya, La Rumpang
Megga Matinroe ri Mutiara. Pada 1853, Tenri Olle mulai berinteraksi ama dua peneliti asal Eropa, BF
Matthes asal Belanda dan Ida Pfeiffer asal Austria. BF Matthes, pendiri sekolah di Tanete buat kaum laki-laki,
adalah peneliti asal Belanda yang menggali sastra klasik Bugis, I
Lagaligo. Sementara Ida Pfeiffer adalah petualang asal Austria yg
singgah di kerajaan Tanete dalam perjalanannya keliling dunia. Nah, interaksi
antara Matthes, Pfeiffer dan Tenri Olle membuka wawasan
Tenri Olle muda untuk berpikiran maju ngelampauin zamannya.
Saat naik tahta, We Tenri Olle banyak banget ngalamin pertentangan, bahkan dari ibundanya sendiri, Colliq Poedjie Arung Pancana.
Ibunya lebih menghendaki La Makkawaru, kakak laki2nya untuk naik tahta. Tapi keputusan kakeknya, La Rumpang, yg juga raja Tanete waktu itu, mengakhiri penentangan dari
ibunya. Lebih lagi gara2 perilaku La Makkawaru yg
gemar judi dan minuman keras dan bertolak belakang ama perilaku Tenri
Olle yg terkenal cerdas, terpelajar dan peminat sastra Bugis dan
Islam.
We
Tenri Olle adalah salah satu dari beberapa wanita Bugis yang menjadi ratu
di Sulawesi Selatan. Tenri Olle berbeda ama Cut Nyak Dien maupun
Kartini. Dia adalah penguasa yg berusaha menjaga kekuasaannya dengan
baik. Makanya dia bisa berkuasa dalam waktu yg cukup lama, yaitu 55 tahun! banyangkan, setengah abad !! Mungkin Tenri Olle lah pemimpin kerajaan paling lama di Nusantara.
Orang2 Bugis kala itu nerapin kesetaraan gender dalam sistem kekerabatan mereka. Antara cowo dengan cewe, dua2nya punya peran sejajar dalam
kehidupan sosial. Antara pihak ayah dengan ibu memiliki peran sama juga dalam
menentukan garis kekerabatan. Walau dengan masuknya Islam yg seolah
menampakkan laki2 lebih dominan, namun wanita tetep punya
kebebasan yg bertanggungjawab. Inilah yang mengundang kagum bahkan dari orang2
barat yg meneliti di Sulawesi pada abad XIX. Salah satunya Thomas Stanford Raffles dalam buku History Of Java (1817) komen mengenai wanita Bugis
“Tampil lebih terhormat dari yang bisa diharapkan dari tingkat kemajuan yg dicapai peradaban Bugis secara umum, dan perempuan tidak mengalami kesulitan hidup yg keras, kemelaratan, atau kerja berat, yg telah menghambat kesuburan kaum mereka dibagian dunia lain.” (Raffles, Histry Of Java, lampiran F, “Celebes”:CLXXIX)"
Keseimbangan antara cowo dan cewe di Bugis didukung dalam
sistem pernikahannya. Setelah acara resepsi pernikahan,
pasangan pengantin baru itu tinggal di rumah orang tua istri, sehingga kaga ngasih ruang si suami buat ngedominasi istrinya. Rumah yang
dimiliki pasangan itu juga dibagi menjadi dua bagian, bagian depan
sebagai wilayah suami dan bagian belakang milik istri. Namun istri
sering juga berada di bagian depan rumah dan akan kebelakang kalo ada
tamu pria asing (bukan kerabat). Nah, bandingkan dengan daerah lainnya pada jaman itu yg wilayah wanitanya adalah loteng.
Saat memerintah, We Tenri Olle berusaha mempertahankan pola patron-klien ama penjajah Belanda buat menjaga keberlangsungan kehidupan
masyarakat Tanette. Meski sadar betapa terhinanya idup dalam
penjajahan, namun sultanah Tanete ini ngerasa kestabilan
kerajaan jauh lebih penting. Kaga ada guna mengobarkan perlawanan
bersenjata, apalagi kekuatan militer Belanda yg saat itu gamungkin buat ditaklukin.
We Tenri Olle ngerasain betapa sulitnya Tanete waktu rajanya, La
Patau, ditangkap dan diasingin Belanda karena melakukan perlawanan yg digencarkan pada tahun 1840. Sebagaimana kakeknya, La Rumpang, Tenri
Olle lebih milih 'berdamai' ama Belanda dan mengambil banyak manfaat dari hubungan baik itu buat konsen
pada kesejahteraan, pendidikan dan pelestarian kebudayaan Bugis. Sikap
politik yg diambilnya tentu aja ngerugiin reputasinya dalam
sejarah Indonesia yg kelak ngangkat pahlawan hanya untuk
pejuang anti-kolonial Belanda dan tidak nyisain tempat untuk anak
negeri yg bersebrangan.
Dari pendalamannya tentang sastra dan pergaulannya ama BF
Matthes dan ida Pfeiffer, Tenri Olle kemudian memikirkan langkah
strategis buat memajukan bangsa Tanete lewat pendidikan. Berbeda dengan FB Matthes, Tenri Olle
mendirikan sekolah rakyat yg terbuka untuk semua kalangan pada
tahun 1890. Model sekolah rakyat atau dikenal jg
sekolah desa (volkschool) ini adalah yg pertama di Sulawesi Selatan waktu itu. Model sekolah rakyat ini sepenuhnya inisiatif Tenri Olle yg lahir dari ide kreatif kerajaan Tanete tanpa bantuan
dari pemerintahan kolonial Belanda. Sekolah ini dibuka untuk
semua kalangan, tidak saja dari kalangan bangsawan dan orang kaya, tapi
juga ngasih kesempatan seluas2nya ke masyarakat bawah untuk
mencicipi pendidikan tanpa ada diskriminasi ekonomi, sosial atau gender.
Belakangan, model sekolah rakyat yang dirintis oleh Tenri Olle ini
diadopsi daerah lain di Sulawesi Selatan, ampe ke
Wajo, Bone, dan Makassar. Di Makassar, model sekolah ini disebut sekolah Melayu.
Karena keterbatasan publikasi, model sekolah yg dirintis
Tenri Olle ini tidak banyak ditemukan deskripsinya dalam banyak
literature. Kemungkinan, mengingat cakupannya yang menyeluruh ke seluruh
kalangan, mata pengajaran yang diberikan adalah membaca dan berhitung.
Dua mata ajaran standar yang dipakai untuk mengasah kemampuan dasar
masyarakat Tanete kala itu.
Meski berstatus sebagai sekolah rakyat, tapi ide kreatif We Tenri
Olle udah sangat luar biasa dan ngelampauin zamannya waktu itu. Bahkan
jauh mendahului Kartini dan Dewi Sartika di Jawa yg lebih dikenal
dalam kepeloporan pendidikannya di Indonesia. Apalagi kontribusi Tenri Olle dalam kemajuan pendidikan tersebut mencakup semua kalangan
tanpa lihat sekat sosial dan ekonomi sebagaimana yang lumrah terjadi
di zamannya. Dia bukan saja berjuang secara partikular untuk kaum
perempuan saja, tapi cakupannya menyeluruh menembus batas gender, batas
sosial dan batas budaya.
Selain dibidang pendidikan, ada lagi nih kontribusi We Tenri Olle di bidang budaya, yaitu menyusun kembali Epos La Galigo. Dengan
inisiasi BF Matthes dan Colliq Poedjie, ibunda Tenri Olle. Perempuan cerdas itu kemudian ngumpulin manuskrip2 La Galigo yg terserak dalam bentuk
daun-daun lontar dan dikeramatkan oleh banyak kalangan Bugis karena anggapan masyarakat bahwa
cerita Lagaligo bukan aja sekedar epos, tapi juga
petuah leluhur (to Riolo) yg mengandung samudera hikmah
kehidupan dan karenanya layak dikultuskan. Belum lagi ketinggian bahasa
perumpamaan yg tersirat di antara larik2 aksara Bugis Kuno yg
hanya segelintir orang mampu menggali maknanya. Di banyak tempat,
manuskrip yg biasa juga disebut lontarak ini disimpan secara
khusus, dalam kain putih dan diberi dupa2. Untuk membukanya
dibutuhkan upacara ritual sakral, dipimpin oleh dukun atau seorang
Bissu, manusia transgender yg dipercaya memiliki kemampuan magis
berhubungan dengan dewata. Selain itu, tak banyak orang bugis yg mampu
memahami bahasa asli La Galigo, yang merupakan bahasa bugis Kuno.
Kemampuan We Tenri Olle membaca dan memahami bahasa Bugis Kuno dalam
bait2 sajak epos La Galigo, yg tersusun dalam 300.000 larik dalam
cerita berangkai itu membuat pekerjaan BF Matthes menjadi lebih mudah.
Dibantu ama dua perempuan ibu dan anak ini, BF Matthes kemudian
menerbitkan transliterasi La Galigo dalam aksara Bugis dan terjemahan
bahasa Belandanya dalam buku: Boeginesche Chrestomathie Jilid
II tahun 1872. Karya terjemahan ini kemudian disimpan di perpustakaan
Universitas Leiden Belanda dan menjadi rujukan penelitian selanjutnya
mengenai wiracarita terpanjang di dunia itu.
Menurut BF Matthes, peran Tenri Olle dan ibunya Colliq Poedjie,
sangat signifikan dalam memperkenalkan epos La Galigo ini ke dunia luar.
Tanpa peran keduanya, mungkin epos ini akan lama terpendam dalam
bilik2 senyap di istana raja2 Bugis ampe
keruntuhannya. Meskipun demikian, upaya keras mereka hanya mampu
membukukan sepertiga dari keseluruhan epos La Galigo. Kerja keras
pengumpulan keseluruhan manuskrip ini masih berlangsung hingga kini, dan
berkembang berkat rintisan tiga orang yang layak dijadikan pahlawan
pelestari karya sastra lokal Bugis ini.
Jadi menurut kalian siapakah yg lebih pantas buat dilantunkan 'putri sejati, putri Indonesia'??
Terakhir ada pepatah Bugis yg pengen banget saya tulis disini.
”Aja’ muangoai onrong, aja’to muacinnai tanre tudangeng. De’tu mulle’i padecengi tana. Ri sappa’po muompo, ri jello’po muakkengau”
- Jangan serakahi posisi, jangan pula terlalu mengingini kedudukan tinggi. Jangan sampai engkau tidak mampu mengurus negeri. Bila dicari, barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah engkau mengiyakan
Dan juga petuah dalam Lontara Sukku’na Wajo.
”Naiyya ri asengge maradeka, tellumi pannessai: seuani, tenri lawa’i ri olona. Maduanna, tenri angka’i ri ada-adanna. Matellunna, tenri atteangngi lao maniang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao manorang”
- Yang dinamakan merdeka, ada tiga hal yang menentukan: pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga, tidak dilarang ke selatan, ke utara, ke barat, ke timur, ke atas, ke bawah
sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar