Rabu, 07 September 2011

Siti Aisyah We Tenri Olle : Sultanah Cerdas dari Tanette

Akhirnya bisa nulis tentang tokoh kita lagi. Sekarang saya pengen banget ngebahas tokoh sejarah yg dilupakan, tentu aja karna buku2 sejarah di sekolah saat ini kebanyakan tokoh dari wilayah Jawa. Yah, padahal Indonesia itu engga sekecil Jawa. We Tenri Olle, itulah namanya, seorang sultanah dari Tanette, Sulawesi Selatan. Saya yakin banget ini pasti sedikit orang yang tau. Coba aja liat di buku2 sejarah, palingan sekali duakali doang disebut, itupun udah sukur banget disebut. Bahkan dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta, Balai Pustaka, 1978) terbitan resmi dari Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) juga kaga nyebut2 namanya. Tanggal kelahirannya juga tidak ada literatur yg pada tau.
Lalu, apa hebatnya We Tenri Olle ampe sebegitu ngebetnya saya pengen cerita??
Wah.. kalo ngomongin hebat, maka komentar saya adalah sangat hebat! bahkan lebih hebat dari 'ibu' kalian Kartini.
Sultanah Siti Aisyah We Tenri Olle (1855-1910)

We Tenri Olle adalah putri ke 2 La Tunampareq alias To Apatorang Arung Ujung dan juga Colliq Poedjie Arung Pancana. We Tenri Olle memiliki dua saudara kandung, yg laki bernama La Makkawaru dan yg perempuan bernama I Gading. Masa remajanya Tenri Olle dihabiskan di istana yg saat itu diperintah ama kakeknya, La Rumpang Megga Matinroe ri Mutiara. Pada 1853, Tenri Olle mulai berinteraksi ama dua peneliti asal Eropa, BF Matthes asal Belanda dan Ida Pfeiffer asal Austria. BF Matthes, pendiri sekolah di Tanete buat kaum laki-laki, adalah peneliti asal Belanda yang menggali sastra klasik Bugis, I Lagaligo. Sementara Ida Pfeiffer adalah petualang asal Austria yg singgah di kerajaan Tanete dalam perjalanannya keliling dunia. Nah, interaksi antara Matthes, Pfeiffer dan Tenri Olle membuka wawasan Tenri Olle muda untuk berpikiran maju ngelampauin zamannya.

Saat naik tahta, We Tenri Olle banyak banget ngalamin pertentangan, bahkan dari ibundanya sendiri, Colliq Poedjie Arung Pancana. Ibunya lebih menghendaki La Makkawaru, kakak laki2nya untuk naik tahta. Tapi keputusan kakeknya, La Rumpang, yg juga raja Tanete waktu itu, mengakhiri penentangan dari ibunya. Lebih lagi gara2 perilaku La Makkawaru yg gemar judi dan minuman keras dan bertolak belakang ama perilaku Tenri Olle yg terkenal cerdas, terpelajar dan peminat sastra Bugis dan Islam.

We Tenri Olle adalah salah satu dari beberapa wanita Bugis yang menjadi ratu di Sulawesi Selatan. Tenri Olle berbeda ama Cut Nyak Dien maupun Kartini. Dia adalah penguasa yg berusaha menjaga kekuasaannya dengan baik. Makanya dia bisa berkuasa dalam waktu yg cukup lama, yaitu 55 tahun! banyangkan, setengah abad !! Mungkin Tenri Olle lah pemimpin kerajaan paling lama di Nusantara.
 
Orang2 Bugis kala itu nerapin kesetaraan gender dalam sistem kekerabatan mereka. Antara cowo dengan cewe, dua2nya punya peran sejajar dalam kehidupan sosial. Antara pihak ayah dengan ibu memiliki peran sama juga dalam menentukan garis kekerabatan. Walau dengan masuknya Islam yg seolah menampakkan laki2 lebih dominan, namun wanita tetep punya kebebasan yg bertanggungjawab. Inilah yang mengundang kagum bahkan dari orang2 barat yg meneliti di Sulawesi pada abad XIX. Salah satunya Thomas Stanford Raffles dalam buku History Of Java (1817) komen mengenai wanita Bugis
“Tampil lebih terhormat dari yang bisa diharapkan dari tingkat kemajuan yg dicapai peradaban Bugis secara umum, dan perempuan tidak mengalami kesulitan hidup yg keras, kemelaratan, atau kerja berat, yg telah menghambat kesuburan kaum mereka dibagian dunia lain.” (Raffles, Histry Of Java, lampiran F, “Celebes”:CLXXIX)"

Keseimbangan antara cowo dan cewe di Bugis didukung dalam sistem pernikahannya. Setelah acara resepsi pernikahan, pasangan pengantin baru itu tinggal di rumah orang tua istri, sehingga kaga ngasih ruang si suami buat ngedominasi istrinya. Rumah yang dimiliki pasangan itu juga dibagi menjadi dua bagian, bagian depan sebagai wilayah suami dan bagian belakang milik istri. Namun istri sering juga berada di bagian depan rumah dan akan kebelakang kalo ada tamu pria asing (bukan kerabat). Nah, bandingkan dengan daerah lainnya pada jaman itu yg wilayah wanitanya adalah loteng.

Saat memerintah, We Tenri Olle berusaha mempertahankan pola patron-klien ama penjajah Belanda buat menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat Tanette. Meski sadar betapa terhinanya idup dalam penjajahan, namun sultanah Tanete ini ngerasa kestabilan kerajaan jauh lebih penting. Kaga ada guna mengobarkan perlawanan bersenjata, apalagi kekuatan militer Belanda yg saat itu gamungkin buat ditaklukin.

We Tenri Olle ngerasain betapa sulitnya Tanete waktu rajanya, La Patau, ditangkap dan diasingin Belanda karena melakukan perlawanan yg digencarkan pada tahun 1840. Sebagaimana kakeknya, La Rumpang, Tenri Olle lebih milih 'berdamai' ama Belanda dan mengambil banyak manfaat dari hubungan baik itu buat konsen pada kesejahteraan, pendidikan dan pelestarian kebudayaan Bugis. Sikap politik yg diambilnya tentu aja ngerugiin reputasinya dalam sejarah Indonesia yg kelak ngangkat pahlawan hanya untuk pejuang anti-kolonial Belanda dan tidak nyisain tempat untuk anak negeri yg bersebrangan.

Dari pendalamannya tentang sastra dan pergaulannya ama BF Matthes dan ida Pfeiffer, Tenri Olle kemudian memikirkan langkah strategis buat memajukan bangsa Tanete lewat pendidikan. Berbeda dengan FB Matthes, Tenri Olle mendirikan sekolah rakyat yg terbuka untuk semua kalangan pada tahun 1890. Model sekolah rakyat atau dikenal jg  sekolah desa (volkschool) ini adalah yg pertama di Sulawesi Selatan waktu itu. Model sekolah rakyat ini sepenuhnya inisiatif Tenri Olle yg lahir dari ide kreatif kerajaan Tanete tanpa bantuan dari pemerintahan kolonial Belanda. Sekolah ini dibuka untuk semua kalangan, tidak saja dari kalangan bangsawan dan orang kaya, tapi juga ngasih kesempatan seluas2nya ke masyarakat bawah untuk mencicipi pendidikan tanpa ada diskriminasi ekonomi, sosial atau gender. Belakangan, model sekolah rakyat yang dirintis oleh Tenri Olle ini diadopsi daerah lain di Sulawesi Selatan, ampe ke Wajo, Bone, dan Makassar. Di Makassar, model sekolah ini disebut sekolah Melayu.

Karena keterbatasan publikasi, model sekolah yg dirintis Tenri Olle ini tidak banyak ditemukan deskripsinya dalam banyak literature. Kemungkinan, mengingat cakupannya yang menyeluruh ke seluruh kalangan, mata pengajaran yang diberikan adalah membaca dan berhitung. Dua mata ajaran standar yang dipakai untuk mengasah kemampuan dasar masyarakat Tanete kala itu.

Meski berstatus sebagai sekolah rakyat, tapi ide kreatif We Tenri Olle udah sangat luar biasa dan ngelampauin zamannya waktu itu. Bahkan jauh mendahului Kartini dan Dewi Sartika di Jawa yg lebih dikenal dalam kepeloporan pendidikannya di Indonesia. Apalagi kontribusi Tenri Olle dalam kemajuan pendidikan tersebut mencakup semua kalangan tanpa lihat sekat sosial dan ekonomi sebagaimana yang lumrah terjadi di zamannya. Dia bukan saja berjuang secara partikular untuk kaum perempuan saja, tapi cakupannya menyeluruh menembus batas gender, batas sosial dan batas budaya.

Selain dibidang pendidikan, ada lagi nih kontribusi We Tenri Olle di bidang budaya, yaitu menyusun kembali Epos La Galigo. Dengan inisiasi BF Matthes dan Colliq Poedjie, ibunda Tenri Olle. Perempuan cerdas itu kemudian ngumpulin manuskrip2 La Galigo yg terserak dalam bentuk daun-daun lontar dan dikeramatkan oleh banyak kalangan Bugis karena anggapan masyarakat bahwa cerita Lagaligo bukan aja sekedar epos, tapi juga petuah leluhur (to Riolo) yg mengandung samudera hikmah kehidupan dan karenanya layak dikultuskan. Belum lagi ketinggian bahasa perumpamaan yg tersirat di antara larik2 aksara Bugis Kuno yg hanya segelintir orang mampu menggali maknanya. Di banyak tempat, manuskrip yg biasa juga disebut lontarak ini disimpan secara khusus, dalam kain putih dan diberi dupa2. Untuk membukanya dibutuhkan upacara ritual sakral, dipimpin oleh dukun atau seorang Bissu, manusia transgender yg dipercaya memiliki kemampuan magis berhubungan dengan dewata. Selain itu, tak banyak orang bugis yg mampu memahami bahasa asli La Galigo, yang merupakan bahasa bugis Kuno. 

Kemampuan We Tenri Olle membaca dan memahami bahasa Bugis Kuno dalam bait2 sajak epos La Galigo, yg tersusun dalam 300.000 larik dalam cerita berangkai itu membuat pekerjaan BF Matthes menjadi lebih mudah. Dibantu ama dua perempuan ibu dan anak ini, BF Matthes kemudian menerbitkan transliterasi La Galigo dalam aksara Bugis dan terjemahan bahasa Belandanya dalam buku: Boeginesche Chrestomathie Jilid II tahun 1872. Karya terjemahan ini kemudian disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda dan menjadi rujukan penelitian selanjutnya mengenai wiracarita terpanjang di dunia itu.
Menurut BF Matthes, peran Tenri Olle dan ibunya Colliq Poedjie, sangat signifikan dalam memperkenalkan epos La Galigo ini ke dunia luar. Tanpa peran keduanya, mungkin epos ini akan lama terpendam dalam bilik2 senyap di istana raja2 Bugis ampe keruntuhannya. Meskipun demikian, upaya keras mereka hanya mampu membukukan sepertiga dari keseluruhan epos La Galigo. Kerja keras pengumpulan keseluruhan manuskrip ini masih berlangsung hingga kini, dan berkembang berkat rintisan tiga orang yang layak dijadikan pahlawan pelestari karya sastra lokal Bugis ini.

Jadi menurut kalian siapakah yg lebih pantas buat dilantunkan 'putri sejati, putri Indonesia'??

Terakhir ada pepatah Bugis yg pengen banget saya tulis disini.
”Aja’ muangoai onrong, aja’to muacinnai tanre tudangeng. De’tu mulle’i padecengi tana. Ri sappa’po muompo, ri jello’po muakkengau”
Jangan serakahi posisi, jangan pula terlalu mengingini kedudukan tinggi. Jangan sampai engkau tidak mampu mengurus negeri. Bila dicari, barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah engkau mengiyakan
 Dan juga petuah dalam Lontara Sukku’na Wajo.
 ”Naiyya ri asengge maradeka, tellumi pannessai: seuani, tenri lawa’i ri olona. Maduanna, tenri angka’i ri ada-adanna. Matellunna, tenri atteangngi lao maniang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao manorang”
- Yang dinamakan merdeka, ada tiga hal yang menentukan: pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga, tidak dilarang ke selatan, ke utara, ke barat, ke timur, ke atas, ke bawah
sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar